Ketika Harus Itu Menjadi Menjengkelkan

16 Jan 2013

GNU/LinuxTulisan ini sebenarnya bukan hanya tentang Linux dan Open Source, meskipun sebenarnya asal muasal ide tulisan ini memang dari pertanyaan-pertanyaan yang saya dapatkan pada forum-forum online atau percakapan langsung antara saya dengan beberapa orang. Isi tulisan ini kurang lebih adalah soal kritik saya akan kesenangan orang-orang untuk mengharuskan orang lain melakukan sesuatu yang menurutnya umum dilakukan. Belum lagi kebiasaan untuk memberikan cap/stempel pada pilihan orang lain yang berbeda dengan khalayak ramai. Pola pikir manut ini terkadang benar-benar menjengkelkan saya.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah membuat sebuah status di halaman media sosial saya yang isinya kurang lebih seperti ini, "Pakai Linux kok dibilang sombong/gaya". Terus terang pikiran atau pernyataan yang beranggapan kalau tidak mau pakai Windows itu artinya sombong/gaya sangat menyakitkan hati saya. Kemudian yang paling menjengkelkan adalah sejuta alasan dikemukakan untuk merendahkan pilihan saya tersebut. Salah satu alasan paling umum yang dikemukakan adalah, "Pakai Windows itu enak, bisa buat nge-game. Kalau di Linux susah buat nge-game". Nah lho, apa kemudian saya harus nge-game juga seperti anda? Apakah kalau punya komputer itu artinya harus nge-game? Lha, saya itu lebih suka membaca dan menulis daripada main game komputer. Apakah pilihan saya untuk tidak bermain game komputer itu artinya juga saya sombong/gaya? Tak bisa saya nalar pernyataan atau pertanyaan semacam itu. Padahal saya sudah kuliah tujuh tahun. Apa mungkin karena saya tidak cum laude makanya tak tercerahkan juga pikiran saya akan hal itu.

Stempel lain sebagai pengguna Linux adalah, "Kalau pakai linux artinya hacker, harus pinter menyabot komputer orang lain". Stigma apalagi ini? Jujur saja, saya belum pernah membobol akun bank milik orang lain. Saya belum pernah mencuri identitas online milik orang lain. InsyaAllah saya tidak berminat untuk melakukannya. Memang sering saya jumpai bahwa kalau sedang belajar Linux maka belajar hacking atau cracking atau istilah apapunlah yang anda sukai, sayapun bingung dengan istilah tersebut. Terbukti banyak sekali pertanyaan "Bagaimana melakukan menggasak koneksi wifi orang lain pakai Backtrack Linux?" atau "Bagaimana mencuri password root di server orang lain?". Banyak pengguna Linux yang ngotot untuk menggunakan distro hacking semacam Backtrack entah karena alasan apa. Tetapi setidaknya dalam pikiran saya hal ini artinya ya seperti di awal paragraf ini, "harus pinter menyabot komputer orang lain".

Sedangkan alasan saya pakai Linux adalah karena saya ingin pakai. Saya bisa membaca artikel-artikel yang saya inginkan menggunakan Linux. Saya bisa menulis apapun yang ingin saya tulis termasuk menulis artikel ini menggunakan Linux. Apakah alasan ini tidak cukup? Ada masalah dengan alasan seperti itu? Kurang bombastiskah alasan tersebut sehingga menjadi tak penting untuk diterima?

Diterima atau tidak diterima itulah alasan saya pakai Linux. Toh, saya sendiri tidak berminat untuk menyusun sebuah atau beberapa alasan yang dianggap keren agar supaya pilihan kenapa saya menggunakan Linux dapat diterima. Diterima atau tidak alasan saya oleh anda, itu urusan anda, bukan urusan saya. Saya cuma mau pakai Linux supaya kebutuhan saya berkomputer bisa terlaksana. Toh saya beli komputer kosongan dan saya instal Slackware di dalamnya juga bukan untuk melayani kebutuhan anda berkomputer di komputer saya.

Masih tidak terima?