Bagaimana Cara Meniadakan Tuhan?

25 Mar 2011

nuclear_waste_logo.pngSungguh menarik komentar-komentar pembaca untuk beberapa artikel di koran online nasional belakangan ini. Isu-isu seputar kegawatan kondisi instalasi pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima di Jepang laris manis seperti gosip-gosip seputar artis yang lebih sering muncul di siaran-siaran televisi nasional kita. Yang menarik bagi saya adalah perlombaan ketakutan dari kebanyakan kita. Mungkin saat ini jika saya tidak ikut-ikutan takut terkena radiasi nuklir dari reaktor tersebut, saya jadi tidak gaul. Sekali lagi efek dari pemberitaan di media yang tidak seimbang dan tidak menyeluruh justru mengundang banyak sekali pemikiran-pemikiran negatif yang kontraproduktif. Lebih menarik lagi, saat tadi khutbah Jum'at khatib mengingatkan jamaah untuk selalu belajar agar kita dapat beribadah dengan benar dan mendapatkan ridho' Allah. Ternyata ada korelasi antara ilmu pengetahuan, mengetahui hal dan ihwal dengan Allah. Khatib juga mengingatkan agar kita tidak membiasakan diri berniat belajar untuk menjadi orang hebat atau orang terkenal. "Belajarlah untuk mendapatkan ridho' Allah", begitu kata khatib tadi.

Seringkali kita-kita yang sedang giat-giatnya belajar lupa akan prinsip sederhana tersebut. Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah hasil olah pikir manusia belaka. Dalam Islam, ilmu pengetahuan itu adalah milik Allah, dan Allah berbaik hati untuk mengajarkan ilmu pengetahuan yang diperlukan manusia dengan perantaraan kalam (QS. 96: 4). Dalam terjemahan bebas saya, kalam adalah segala sesuatu yang dapat digunakan manusia untuk memperoleh informasi, baik berupa tulisan, bacaan, gambar, inspirasi (mimpi), dan sebagainya. Dalam pengertian saya, Allah mengajari manusia dengan cara-cara yang dapat diterima manusia. Di sini, Allah memanusiakan manusia. Terkadang manusia keblenger dengan Kebaikan Allah untuk mengajari manusia dengan cara-cara yang dimengerti manusia. Manusia meniadakan Allah karena berasumsi pengetahuan tersebut dengan mudahnya dipelajari oleh manusia jadi tidak mungkin pengetahuan tersebut datangnya dari zat yang tidak dapat terjangkau atau di luar manusia. Kesombongan manusia inilah yang pertama kali membuat manusia dapat dengan mudah meniadakan Allah. Kesombongan hanya akan membuat kita mengalami kehancuran, cepat atau lambat.

Hal lain yang dapat meniadakan Allah adalah setelah kita belajar mengenai pengetahuan-pengetahuan tersebut tetapi kemudian kita malah menjadi ketakutan. Dalam ilmu biologi, otak manusia memang dapat menampung informasi dalam jumlah yang luar biasa, tak terhitung. Hanya saja yang dapat terhitung itu terkadang hanya yang kita anggap perlu saja. Terkait dengan subyek tulisan ini, saya melihat banyak sekali ketakutan yang muncul akibat serapan pengetahuan yang mungkin sangat minim sehingga hanya menghasilkan konsepsi-konsepsi negatif untuk diri kita sendiri. Prinsip saya mengenai bencana adalah bahwa bencana itu tidak akan ditimpakan kepada saya kecuali memang sudah digariskan oleh-Nya dan saya bertawakkal kepada-Nya (QS. 9:51). Ketakutan yang saya sebutkan tersebut akhirnya mengalahkan keberadaan Allah. Tidak perlu ada Allah untuk menimpakan bencana bagi kita karena ketakutan tersebut mendorong kita untuk tidak berbuat apa-apa, tidak mau memperbaiki yang ada, tidak mau menerima gagasan-gagasan baru alias tidak berusaha dan bertawakkal. Kita terlalu sibuk untuk takut kepada materi-materi ciptaan Allah. Kita tidak punya waktu untuk bertawakkal karena kita menganggap bahwa kematian kita adalah bersumber dari benda-benda yang kita takuti tersebut alias kematian tidak perlu datang atas perintah-Nya. Ketakutan tersebut membuat kita seolah-olah kita tidak membutuhkan Allah lagi untuk melindungi kita dari apa-apa yang akan terjadi. Padahal jika kita mampu bertawakkal kepada Allah, insya Allah Allah akan melindungi kita (QS. 33:3).

Rasanya kejam sekali jika kita menjadi meniadakan Allah hanya karena kita takut mati akibat radiasi nuklir dari pembangkit tenaga nuklir dari Jepang atau dari yang akan kita bangun di beberapa tempat di Indonesia. Saya sebagai seorang alumni biologi sedikit terkejut dengan reaksi negatif kebanyakan dari kita yang tidak lagi mempercayai kesempurnaan ciptaan Allah yang bernama manusia yang dilebihkan dari sekian mahkluk-makhluk-Nya (QS. 17:70). Kesempurnaan cipta Allah itu sebenarnya dapat kita lihat dari mekanisme-mekanisme perlindungan diri manusia terhadap segala bentuk infeksi dan perubahan baik dari sisi luar tubuh hingga ke level DNA. Dalam pelajaran genetika dan biologi sel, sering kita dengar prinsip perbaikan DNA. Ada metode-metode yang dilakukan DNA untuk memperbaiki dirinya sendiri dan efeknya adalah perbaikan sisi luar manusia. Tiap-tiap sel manusia sudah dilengkapi dengan sistem pertahanan diri yang akan mengurangi efek dari entitas-entitas yang dapat menyebabkan kita menjadi sakit sehingga proses perbaikan diri manusia menjadi lebih cepat dan tidak sampai menewaskan kita saat penyakit-penyakit itu berdatangan. Allah juga menyediakan segala bentuk penyakit dan obatnya untuk manusia. Tentunya harus kita cari apa-apa bentuknya. Dalam sebuah artikel di Kompas.com, ternyata karat hijau yang sering kita jumpai pada besi-besi tua di sekitar kita dapat mengatasi limbah nuklir. Saya menjadi sangat takjub bahwa mekanisme-mekanisme yang diciptakan Allah memang sangat adil. Membangun sebuah instalasi pembangkit listrik bertenaga nuklir memang sangat mahal, tetapi ternyata salah satu alternatif zat pengolah limbahnya hanya berupa karat besi. Tidak perlu ilmuwan dengan gelar bederet-deret untuk membuat sebuah besi karat. Tetapi jika kita tidak mau berusaha mengetahui, dalam hal ini mengubah cara pandang, berusaha mengalahkan ketakutan-ketakutan kita, saya rasa sulit sekali kita memperoleh pengetahuan yang demikian. Walhasil ketakutan hanya akan membuat kita semakin terbelakang dan bodoh.

Mungkin inilah yang disebutkan Allah bahwa Dia adalah pelindung bagi orang-orang yang tahu dan kemudian orang-orang itu bertawakkal kepada Allah. Jika memang kita percaya bahwa itu adalah ciptaan Allah dan mengetahuinya adalah salah satu rahmat Allah, mari kita bersyukur kepada Allah. Jadi jika kita benar-benar percaya bahwa kita adalah ciptaan Allah, marilah kita kurangi berlebih-lebihan dalam segala hal. Kesombongan kita adalah wujud sikap berlebihan kita terhadap kemampuan kita, dan ketakutan-ketakutan atau paranoia kita adalah wujud dari sikap berlebihan kita akan ketidakmampuan kita untuk belajar dan berusaha dan menjadikan kita dalam keputusasaan. Mari kita sama-sama ingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya yang saleh dan bertawakkal (QS. 3:159).

Mudah-mudahan berkenan. Maaf jika ada salah kata atau salah kutip.