Berani Karena Sombong?
Aksi yang ditunjukkan oleh para orang tua murid SD yang terlibat kasus menyontek massal sangat menarik untuk dicermati. Kejadian tersebut boleh dibilang merupakan sebuah refleksi tingkat kesombongan kita saat ini. Jika boleh saya beri skala 0 (tidak sombong) - 10 (paling sombong), maka kasus tersebut mungkin menunjukkan bahwa saat ini kita berada pada tingkat 15
. Saya melihat kejadian tersebut begitu menyedihkan. Sungguh, kejadian tersebut sangat menohok akal sehat saya. Apakah kita akan dikatakan Berani karena Sombong?
Saya masih ingat bahwa kesalahan yang dilakukan anak-anak adalah kenakalan, sedangkan kesalahan yang dilakukan oleh orang2 yang lebih tua adalah kejahatan. Lalu apakah kejadian tersebut dapat kita anggap sebagai kejahatan para orang2 tua? Bisa jadi seperti itu. Sewaktu pertama kali saya melihat tayangan wawancara para pemrotes, simpulan saya, ada kesombongan di situ. Kesombongan tidak jelas dari orang2 tua tersebut kemudian menjadi sebuah kejahatan di mata saya. Ya, saya tulis sekali lagi, itu adalah sebuah kesombongan yang tidak jelas.
Tidak ada harga diri yang diperjuangkan di situ. Yang ada hanya sebuah aksi pelarian dari sebuah kesalahan. Terjadi sebuah kejahatan karena orang2 tua tersebut mengesampingkan sisi edukasi dan tanggung jawab. Mungkin para orang2 tua lupa bahwa melakukan pembenaran atas kejadian tersebut dapat berdampak sangat buruk terhadap masa depan anak-anaknya. Apa para orang2 tua tersebut tidak takut kehilangan kehormatan di mata anak2nya? Bapak saya pembela kejahatan, mungkin begitu perkataan mereka nantinya.
Terlepas dari apa kata2 anak2 tersebut di masa depan, saya berdo'a mudah-mudahan nanti akan baik-baik saja, cedera masa kecil akan selalu terlintas di pikiran. Kesan bahwa tidak ada masalah melakukan kejahatan yang penting "harga diri" dan "status sosial" tidak hilang. Kesombongan itu telah menghilangkan harga diri sesungguhnya dari sebuah status sosial orang terpelajar. Jika dulu di negeri China, seorang terpelajar adalah seorang yang sangat dihargai oleh masyarakat, entah beliaunya kaya atau miskin. Agaknya sistem nilai kita saat ini sangat jauh dari sistem penghargaan seperti itu.
Saat ini di negeri ini, anjurannya adalah "Hormatilah orang kaya meski penjahat" atau "Hargailah orang yang sukses dengan kejahatannya".
Apakah para orang2 tua tersebut termasuk ke dalam generasi gagal? Saya tidak tahu. Yang saya tahu bahwa dulu Rasulullah Muhammad S.A.W. pernah berkata bahwa jika Siti Fatimah R.A. mencuri maka beliau sendiri yang akan memotong tangan putrinya tersebut. Saya tidak bicara soal kejam atau tidak kejam. Silakan cermati kasus LAPINDO yang sudah berjalan 5 tahun tanpa kejelasan jika ingin diskusi soal kejam atau tidak kejam. Saya hanya ingin menekankan sekali lagi bahwa para tauladan kita dulu menganggap bahwa jika orang2 terdekatnya melakukan kejahatan maka mereka sendiri yang akan menghukumnya dengan keras. Ini adalah tauladan tentang tanggung jawab dan harga diri. Mungkin itulah yang bisa disebut sebagai Berani karena Benar.
Tetapi saya juga hanya bisa mengumpat di sini. Apakah itu sudah cukup? Mungkin tidak, eh keliru, jelasnya tidak cukup. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Saya hanya bisa menyarankan pada para orang2 tua untuk menanamkan rasa tanggung jawab sejak dini pada anak2nya. Apapun yang mungkin terjadi harus dihadapi dengan tanggung jawab. Kemudian saya hanya bisa menyarankan untuk membaca kembali apa2 yang terkandung dalam surat Lukman (QS. 31). Di situ kita dapat menjumpai ajaran-ajaran tentang tanggung jawab dan berani karena benar, bukan berani karena sombong (QS. 31:18). Sebagai sebuah bangsa yang besar, maka para orang tua yang merasa menjadi bagian darinya haruslah mengajarkan nilai-nilai tanggung jawab, keberanian karena benar dan tentang kejujuran. Bisakah kita melakukannya?
Akhir kata, mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung. Saya sangat menghargai kritik atas tulisan ini. Selamat mengaji...