Jika Jurnalis Itu Harus Jujur, Maka....

28 Mar 2012

pena_dan_buku.pngPersoalan kejujuran dalam jurnalistik yang termuat dalam salah satu Elemen Kovach (maaf saya tidak bisa bercerita banyak tentang beliau dan tulisannya, saya kan bukan pakarnya) yang dibawakan secara sepintas oleh mas Wisnu Nugroho (wartawan KOMPAS) tadi siang cukup menggelitik hati saya. Jadilah saya menulis sesuatu yang mungkin lebih tepat jika disajikan oleh rekan-rekan saya yang lain. Tetapi saya tidak akan menyinggung soal jurnalistik di tulisan ini, saya hanya ingin mentertawakan diri saya saja cheeky. Jika ingin berdiskusi perihal jurnalistik mungkin lebih tepat jika anda berhubungan langsung dengan mas Wisnu dan kawan-kawan. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menyinggung soal mengapa saya berada di sekitar Jogja saat ini. Judul yang saya tuliskan pun hanya sekedar tinjauan dangkal tentang makna kejujuran. jujur saja, saya itu bukan orang yang jujur cool.

Bukan Wartawan

Dalam perspektif kejujuran, keberadaan saya di kegiatan ini adalah sebuah ketidakjujuran. Jujur saja, sebenarnya saya sendiri bertanya-tanya kenapa saya? Kemudian jika saya mengikuti kegiatan tersebut kelanjutannya apa? Apa kemudian saya akan menjadi seorang penulis dan lebih celaka lagi, saya akan dipasrahi kegiatan tulis-menulis mengenai sepak terjang Bos-Bos saya di kantor? Kalau benar demikian maka saya benar-benar berada dalam sebuah kecelakaan.... Saya itu orang yang lebih suka menuliskan hal-hal tentang diri saya sendiri. Saya juga tidak berpikir untuk menjadi seorang penulis apalagi jurnalis. Saya itu tahunya cuma teks putih di atas layar hitam. Jadi, menjadi wartawan untuk kantor saya................? (sepertinya hening ya?)

Tentu saja anda dapat berkata, minimal dapat ilmunya. Okelah, sedikit banyak saya menjadi tahu kaidah-kaidah jurnalistik. Tambahannya adalah sedikitnya saya bisa menilai tulisan saya sendiri. Hasilnya seperti apa? Nggak tahu! Kan tulisan saya sendiri (- ngeles -). Apakah saya tidak dapat menulis? Mungkin rekan-rekan yang pernah membaca tulisan saya lebih bisa menilai apakah saya dikaruniai sebuah kemampuan untuk bisa menulis. Salah satu kiat dari mas Wisnu tentang menulis adalah melatih kepekaan. Mungkin saya bisa memekakan diri saya terhadap hal-hal di sekitar saya, tetapi soal kegiatan-kegiatan kantor saya? Saya itu paling jarang mengikuti kegiatan luar kantor. Sehari-hari ya ndekem di dalam ruangan NOC kantor, beradem-adem ria bersama server-server data kantor. Lalu apa mungkin saya akan menceritakan kegiatan-kegiatan Bos-Bos saya yang sering jalan-jalan entah kemana, saya tak tahu rimbanya (kalau benar2 ke rimba tentunya).

Jadi kalau mau jujur, kira-kira hasil atau apa yang bisa saya kembangkan setelah mengikuti kegiatan kantor yang satu ini? Apakah kemudian saya dapat memberikan pencerahan kepada rekan-rekan saya di kantor yang memang sehari-hari terlibat dalam kegiatan tulis-menulis artikel yang dipublikasikan di portal web kantor? Jelas tidak mungkin. Itu bukanlah kapabilitas saya. Seperti jika anda bertanya kepada saya tentang kenaikan harga bahan bakar minyak, wow! Siapa saya bisa menjawab itu. Wong ilmunya saja saya gak paham kok. Lebih baik tanya ke adik saya yang belajar ilmu soal pertambangan.

Pembangkangan Adalah Resolusi? 

Lantas jika kehadiran saya di sini adalah sebuah bentuk ketidakjujuran, apa perlu saya mengikuti seluruh sesi kegiatan hingga selesai? Toh setelah dari sini pun saya tetap tidak memiliki akses untuk mempublikasikan sebuah contoh artikel di laman portal web kantor saya. Berbeda dengan kebanyakan rekan-rekan kantor yang berada di sini yang ke depannya mereka memang akan mengelola publikasi-publikasi resmi dari satuan kerja masing-masing. Jadi tentu saja, buat mereka, kegiatan ini perlu karena memang menunjang karir mereka. Lha saya? Apakah kemudian saya harus mengetikkan perintah-perintah debug di konsol dengan kaidah-kaidah tertentu dan kemudian mempublikasikan hasilnya di sebuah laman portal web? Dengan tambahan grafis yang menarik seperti halaman depan harian KOMPAS? Hmmm......

Jujur, saat ini saya mengalami dilema dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Jelasnya saya sekamar dengan rekan saya yang PNS dan ada kemungkinan beliau akan dipasrahi tugas-tugas terkait dengan kegiatan ini. Saya jadi tidak enak sendiri jika selalu mencari-cari alasan untuk tidak keluar kamar dan tidak mengikuti acara tersebut. Saya sudah melakukan pembangkangan tadi siang, malam ini? Besok? Dalam tataran kehadiran saja diri saya saat ini sudah tidak jujur, dan hati saya memang tidak sreg dengan keberadaan saya di sini. Jadi apa yang harus saya lakukan? Ada ide? indecision